Seberapa Penting Personal Branding di Era Digital?

Photo by Omkar Patyane on Pexels.com

Beberapa waktu lalu, Aku mengikuti BINAR (Bincang Relawan) yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Volunteer Banten. Pembahasan kali ini mengenai personal branding yang disampaikan oleh Setiawan Chogah atau biasa disapa dengan Om Iwan. Aku kenal Om Iwan sejak tahun 2017 di Dompet Dhuafa Banten.

Biasanya sewaktu masih sering ketemu di kantor, kami panggilnya ka Iwan atau a Chogah. Katanya berasa udah tua kalau dipanggil Om. Saat di Dompet Dhuafa Banten, Om Iwan menempati posisi sebagai Corporate Communication Manager. Kini, Om Iwan bekerja sebagai Frelanceer Digital Creative Consultant dan juga mengelola bisnisnya yang sudah 2 tahun berjalan.

Om Iwan percaya dizaman digital saat ini, sebagai kaum milenial dan gen Z perlu memanfaatkan media sosial untuk membangun citra diri. Alasanya, saat ini Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 264 juta jiwa. Sedangkan untuk gen Z sendiri di Indonesia sudah sebanyak 68 juta penduduk.

Pertanyaannya, lalu apa yang membuatmu spesial diantara 67.999.999 pesaingmu? Ok, mungkin bagi gen Z saat ini masih kuliah atau baru lulus, menunggu panggilan lamaran kerja atau bisa jadi menunggu dilamar pacar dan seterusnya.

Nah untuk Kamu yang ingin berkarir, ada jalan pintas termudah yang bisa dilakukan yaitu dengan membangun personal branding di sosial media. Saat ini untuk melamar pekerjaan bukan lagi dengan print CV tetapi dapat dilihat dari LinkedIn, Instagram.

Om Iwan juga menambahkan, jika Kamu gemar maki-maki di sosial media dan pasang foto profil dengan pose bibir manyun, ya agak susah lolos seleksinya. Nah loh, coba cek and ricek lagi deh sosial media kamu. Kali aja ada yang kudu disapu bersih.

Menurut Om Iwan, branding dan marketing adalah dua hal yang berbeda. KPI dari branding sendiri adalah citra atau kesan, sedangkan KPI dari marketing adalah jualan, orang beli produk. Jadi simple-nya, personal branding yang sedang dibahas adalah apa yang orang lihat dan bicarakan tentang Kamu ketika Kamu tidak sedang bersama mereka.

Disadari atau tidak, semua orang membangun brand dirinya sendiri. Kamu pasti pernah deh jadi bahan omongan orang lain dan pasti ada momen juga, dimana kamu atau aku jadi pelakunya (ngomongin orang lain). Perbedaannya terletak pada bahan pembicaraannya, faedah atau nggak. Duh, jadi malu. Hehe.

Misal nih yang berfaedah, seperti momen Kamu lagi butuh seseorang untuk jadi MC diacara Kamu, “eh si itu orangnya kurang kalau improvisasi, jangan dia deh kayaknya kurang cocok buat jadi MC. Si anu aja tuh, jago dia public speaking”.

Om Iwan akui bahwa selama bekerja tidak pernah menggunakan CV atau lamaran. Klien yang Ia dapatkan biasanya dari instagram atau LinkedIn. Nah, inilah dampak dari membangun personal branding. Enaknyaaaa…

Lingkungan yang ada disekitar seperti lingkungan pertemanan, lingkungan bekerja juga mempengaruhi personal branding itu sendiri loh. Ibarat kata nih, ketika berteman dengan penjual minyak wangi, bakal menikmati kecipratan bau harumnya juga.

Lalu bagaimana sih orang yang di sosial medianya terlihat berbeda dengan realitanya? Kan macem fake gitu kesannya. Personal branding menekankan kamu telah mengenal dirimu sendiri. Ada tiga pondasi yang harus dimiliki dalam membangun personal branding.

  • Mind identitiy.

Kamu inginnya dikenal sebagai apa sih? Apa yang Kamu sukai dan juga bisa melakukannya. Kamu jago ngomong? bisa dikenal sebagai MC. Lalu, Kamu jago menulis? Bisa dikenal sebagai penulis konten atau blogger.

  • Behavior identitiy

Beres soal mind identitiy, lanjut ke poin kedua. Begitu Kamu sudah mengetahui apa yang Kamu sukai dan Kamu bisa, apalagi ahli saat mengerjakannya maka ini harus selaras dengan tindakanmu. Misal, ingin dikenal sebagai orang yang on time tetapi tiap kali janjian datang paling akhir. Begini nih yang fake.

  • Visual identitiy

Aku yakin Kamu pasti suka melihat yang indah-indah, iya kan? Aku juga soalnya. Haha. Dalam membangun personal branding juga penting untuk memperhatikan tampilan. Ketika Kamu bilang suka sama kebersihan tetapi ternyata mandinya dua hari sekali. Wah ini sih apa namanya yah? Coba kamu jawab sendiri.

Ketika ketiga aspek tersebut menyatu dalam membangun personal branding maka itu yang disebut SELARAS, bukan fake. PIKIRAN (paham, ideologi atau apapun istilahnya) > ACTION (perilaku sehari-hari, apa yang diposting disosial media) > VISUAL (apa yang orang lihat tentang Kamu didunia nyata).

Pernah dengar PASSION? Ketika Kamu suka dan ahli dalam mengerjakannya itulah dia, passion. Apabila belum ahli, minimal bisa deh. jika hanya sekedar suka, itu bukanlah passion. Begitu juga apabila hanya bisa tapi ngga suka, ya bukan passion.

Untuk mendapatkan jawaban poin satu yaitu mind identitiy, caranya adalah dengan sering-sering ajak diri sendiri ngobrol, self reflection, self talk. Ini sih Aku sering banget, dari mulai ngucapin makasih ke diri sendiri, lagi senang, lalu marah karena sesuatu hal, benci, sedih, sebel, lagi butuh asupan support. Komplit deh, semua perasaan dan pertanyaan sering Aku lampiaskan. Haha. Ajaibnya jadi lebih lega. Hehe.

Intinya sering-sering bertanya dan ngobrol dengan diri sendiri bertujuan untuk mengetahui apa sih keunikan yang ada dalam diri ini? Hebatnya dimana daripada yang lainnya? butuh proses memang, tidak langsung ujug-ujug tahu jawabannya.

Aku pun juga melakukan beberapa eksperimen untuk menyakinkan diri bahwa yang dilakukan saat ini betul-betul mempresentasikan Aku banget. Keuntungannya Aku lebih bahagia dan secara tidak langsung mempengaruhi prestasi juga.

Mutiara yang indah dan mahal dibentuk melalui proses menyakitkan yang panjang. Sebutir pasir yang masuk ke dalam kerang menyebabkan kerang kesakitan hingga mengeluarkan cairan. Cairan ini kemudian membalut butiran pasir. Hal ini terjadi berulang-ulang sampai jadilah mutiara.

Jika ingin membangun personal branding di sosial media, Om Iwan menyarankan gunakan instagram karena saat ini sedang naik daun. Jangan hanya menonton instagram story orang lain atau baca-bacain komentar, yuk jadi pemain juga. Mungkin ini saatnya Kamu ditonton orang.

Bahkan untuk melakukan personal branding, ada timeline atau jadwal kapan Kamu harus posting. Om Iwan menganjurkan minimal 1 hari untuk 1 posting-an, jika bisa lebih. Bisa juga sekali dalam tiga hari, seminggu sekali juga boleh. Jika tidak posting untuk feed instagram, setidaknya bisa posting ig story.

Hal ini dilakukan agar orang-orang tetep aware bahwa kamu masih hidup, ada dan berkarya. Perhatikan juga timing, Kamu bisa cek lebih dulu kapan followers kamu lagi aktif buka instagram. Kemudian Kamu bisa posting satu jam lebih awal.

Konten yang ingin ditampilkan bisa berupa microblog, foto atau video. Meski pelan-pelan, postingan tadi tentu akan menarik perhatian audiens. Oiya ini ada tiga tips untuk optimalisasi sosial media dari Om Iwan dalam membangun personal branding.

  1. Cari tahu kelebihan dan kekurangan tentang diri sendiri.
  2. Ketahui siapa yang akan menjadi target. Jika apa yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan pasar, tentunya akan mendapatkan feedback yang tinggi dan bagus.
  3. Jangan ragu menceritakan tentang diri sendiri mengenai apa yang disukai dan tidak. Tentunya ini ada batasannya, jangan sampai mengarah pada rahasia pribadi yah.

Lalu bagaimana sih menjawab pertanyaan “Sebenarnya aku tuh aslinya yang gimana sih? Aku aja bingung”. Ada beberapa cara untuk menyadari dan kenal sama diri sendiri. Pertama, perhatikan ketika orang lain memberikan Kamu pujian. Misalnya nih, “Ih, Lu bisaan yah bikin jilbabnya jadi bagus. Gue kemarin juga coba tapi jadinya B aja.” Itu artinya Kamu jago untuk mix and macth pakaian dan ada bakat di fashion. Bikin deh konten tips-tips di Instagram.

Kedua, ingat-ingat lagi apa sih yang paling Kamu suka dan ngga disuka ketika di sekolah. Misalnya ngga suka Fisika. Ya jangan ambil kuliah jurusan Teknik, apalagi lanjut kerja di Pabrik. Itu namanya masukin diri sendiri ke mulut harimau. Gitu kata Om Iwan dan seumur hidup ngga akan bahagia secara sempurna.

Masih belum tahu juga? Hmm. Nih ketiga, cemplungin diri sendiri. Minta orang lain untuk membuatmu belajar suatu bidang. Jika itu sesuai dengan karaktermu. Selamat Kamu sudah menemukan siapa dirimu yang sebenarnya.

Salah seorang peserta bertanya kepada Om Iwan, “Apakah personal branding memiliki dampak negatif?” Tentu akan menjadi negatif jika apa yang dilakukan di kehidupan nyata berbeda dengan yang diposting di media sosial seperti yang sebelumnya dijelaskan mengenai fake tadi.

Wah ngga kerasa udah panjang banget dan sampai di pengujung bacaan. Akhirnya karena waktu sudah larut malam, kami pun mengakhiri sesi BINAR yang membahas tentang personal branding malam itu.

Jika kamu mau mengenal Om Iwan lebih dekat, bisa cek instagramnya @setiawanchogah. Semoga semakin tercerahkan ya teman-teman. Selamat mengenal dan bertemu dengan diri sendiri 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: